Cara Membangun Otoritas  dalam Mendidik Anak

Cara Membangun Otoritas dalam Mendidik Anak

Pernahkah kita mendengar, seorang anak yang memaki orangtuanya karena keinginannya tak terpenuhi? Orangtua merasa sudah memberikan SEGALANYA, namun ternyata perilaku anaknya masih tak sesuai dengan harapan ayah ibunya?

Ayah ibunya shaleh, tapi kenapa anaknya kagak ikut shaleh? Ataukah, kita pernah mendengar seorang anak tega berbuat aniaya terhadap orangtuanya?

Tulisan ini mencoba merefleksikan jawaban jawaban atas pertanyaan diatas, dan bagaimana semestinya beradaptasi dengan kondisi yang berbeda, antara orangtua zaman dulu dengan orangtua zaman sekarang.

Orangtua zaman dulu (tahun 70-90an) ternyata sudah menerapkan otoritas yang benar terhadap anak. Mari kita ingat ingat, dahulu saat anak dimarahi guru, lalu mengadu ke orangtua, apa yang terjadi? Alih alih dibela, malah dapat bonus tambahan. Hehe

Dahulu, saat seorang anak dinasehati, anak tak berani berkata kata bahkan sekedar menatap wajah orangtuanya, tak berani !

Dahulu, anak-anak bisa tunduk dan taat dengan aturan aturan di rumah yang diterapkan oleh kedua orangtuanya. Mengapa? Karena mereka membangun otoritas yang benar terhadap anak

Maksudnya membangun otoritas yang benar itu apa sih?
Maksudnya, orangtua bisa menunjukan kredibilitasnya, anaknya terpengaruhi dengan nilai-nilai hidup dari orangtuanya. Orangtua memberikan hak hak sang anaknya dengan memberikan batasan yang jelas dan tegas.

Pada akhirnya, anak menyadari apa yang benar, bagaimana seharusnya bersikap, mengetahui hak dan kewajibannya sampai pada terbentuknya karakter karakter anak yang kuat. Pribadi pribadi yang kuat. Anak mengikuti apa yang dikehendaki oleh orangtuanya.

Jadi, bagaimana atuh cara membangun otoritas yang benar itu?

Teladan saja tidak cukup, butuh skill !
Ayah ibunya rajin shalat bahkan jadi guru, itu sudah bagus pisan, tetapi belum cukup jika tak memiliki ilmu dalam mendidik anak, bisa repot kedepannya. Bisa salah pola asuh, bisa keliru menyikapi anak. Dari sekarang yuk ngaji quran dan hadits, disana ilmu-ilmu parenting ada banyak. Libatkan dan rangsang anak agar mengikuti jejak baik ayah ibunya. Agar anak bisa menginternalisasi nilai-nilai keshalehan dari ayah ibunya.

Wajib Akrab dengan Anak
Orangtua wajib akrab dengan anaknya. Ini merupakan kunci menancapkan pengaruh terhadap anak. Jangan sampai kalah dalam keakraban dengan anak. Anak bisa-bisa tak terpengaruhi oleh ayah ibunya. Jadi jangan bilang sudah MEMBERI SEGALANYA apabila kita tak bisa meluangkan waktu untuk membangun keakraban sejak dini.

Tegas dan Jelas dalam bersikap
Saat mendidik anak, orangtua mesti memahamkan anaknya bahwa ada aturan ayah ibu dan aturan agama yang mesti dijunjung tinggi. Orangtua mesti siap melihat anaknya nangis (untuk sementara).

Contohnya;
saat akan berangkat kerja, anaknya nangis dan merengek minta digendong gendong dulu. Apakah yang mesti dilakukan orangtua? Harusnya orangtua tetap berlalu pergi, jangan lembek. Buka senyum lebar, lambaikan tangan, dan langkahkan kaki untuk berangkat kerja. Biarkan anak nangis hari itu. Dan lihatlah hari hari kedepannya. Anak bisa memahami.

Contoh lainnya;
Anak nangis karena ingin jajan yang menurut kita itu kurang bagus untuk kesehatannya. Ayah ibu mesti tegas dan menjelaskan dengan detail. Libatkan sentuhan (touch communication) saat memberitahu anak. Jangan lembek, karena iba dan jengah melihat tangisan anak. Sekali lagi, biarkan anak nangis (sementara). Dan lihatlah hari-hari kedepannya

Jangan Otoriter !
Setelah ayah ibu bisa membangun otoritas terhadap anaknya, orangtua tak boleh otoriter. Serba mengekang, tak memahami konteks masalah dan kebutuhan anaknya. Orangtua yang berhasil membangun otoritas yang benar, biasanya akan dituruti oleh anak-anaknya.

Mari kita pahami bahwa saat ini tantangan membangun otoritas semakin bertambah sulit. Mengapa? Di era keterbukaan informasi dengan adanya internet dan medsos, membuat orangtua harus lebih unggul bersaing dalam mendapatkan otoritas, cinta, kredibilitas dan kepercayaan anaknya.

Ini bukan persoalan sepele, karena akan berdampak terus dalam tahap perkembangan anak di masa yang akan datang.

Jika anak sudah terpesona dengan ayah ibunya, jika anak sudah akrab dengan ayah ibunya, jika anak merasakan keharmonisan ayah ibunya, jika anak memahami mulianya ayah dan ibunya, kira-kira apa yang akan terjadi?

Selamat membangun otoritas yang benar. Allahu a’lam.

Tentang Kesendirian dan Kesunyian

Tentang Kesendirian dan Kesunyian

Kesendirian sebetulnya adalah hal yang melekat pada diri kita. Kondisi ini terus kita jalani selama fase pranatal (sebelum lahir ke muka bumi).Dalam rahim, kita sudah terbiasa sendirian. Bahkan hingga puncaknya kehidupan diri kita, juga akan mengalami kesendirian lagi.

Karena kesendirian ini melekat, maka sewaktu waktu kita bisa merasakan hal ini meski dalam kenyataannya diri kita dikelilingi banyak orang. Ada keluarga, tetangga, teman dan masyarakat.

Dulu, saat kita berada di fase pranatal, kita sudah disiapkan oleh Allah agar bisa beradaptasi dengan kesendirian. Hari ini, saat kita benar-benar hidup di muka bumi, mestinya juga tetap bisa menerima kondisi kesendirian. Baik itu karena kita tersingkirkan oleh perbedaan, atau terasingkan dan terkucilkan oleh orang-orang yang belum bisa menilai keutuhan diri kita. Atau mungkin karena ada suatu ketidaksempurnaan yang menyebabkan banyak orang menjauhi diri kita.

Tak usah panik. Tak usah terlalu bersedih hati. Allah akan menguatkan dirimu ketika kita mampu memahami kesendirian dan kebergantungan hanya kepada Allah.

Allah pasti mencukupkan segala kebutuhanmu. Allah pasti memberikan banyak ‘hiburan’ dengan berbagai bentuknya. Tak mesti datang dari orang-orang yang kita harapkan. Adakalanya hiburan itu datang dari orang terdekat kita, mungkin juga dari makhluk yang lain. Hehe, maksudnya kelucuan hewan yang tiba tiba bisa kita lihat. Atau hal lain yang Allah tunjukan untuk menghibur duka lara karena terasing dan terpinggirkan oleh banyak orang.

Seringkali orang yang bisa adaptasi dengan kesendirian, memiliki kestabilan emosi (perasaan). Kestabilan emosi ini berdampak pada produktivitas dan kreativitas. Tak heran, banyak orang yang dulunya tak dianggap, kini saat mereka dewasa menjadi orang yang dianggap sukses. Betapa banyak juga yang masa kecilnya dicaci dan dihujat, namun saat ia tumbuh besar menjadi berwibawa dan memiliki prestasi.

Tak usah alergi dengan nuansa kesendirian yang pasti menerpa di salah satu episode kehidupan kita. Kesendirian dan ketakutan merupakan ujian dari Allah. Pasti akan terjadi pada diri kita. Pasti ada momen dimana diri kita tak dianggap, dimana kita merasa hilang dari peredarannya. Kita merasakan sendirian, kita juga merasakan ketakutan.

Saat kondisi seperti itu, tenanglah. Kita hanya butuh satu hal; terkoneksi dengan Allah. Itu saja. Berharap dan banyak bicara pada manusia, tak akan mendatangkan solusi terbaik. Namun, jika kita fokus dan khusyu dalam mengkomunikasikan semua duka lara dan kesedihan hati kita hanya kepada Allah, maka pasti hidayah untuk menemukan jalan keluar terbaik akan segera kita dapatkan.

Diri Kita dan Kesunyian

Percayalah bahwa sunyi adalah teman. Ia akan dan seharusnya menemani setitik waktu dari 24 jam yang kita miliki. Kesunyian seringkali membuat hati kita lebih lembut, lebih bijak, lebih tenang. Sunyi bisa mengurai konflik yang berkecamuk dalam pikiran kita. Pantas saja, jika dua orang sahabat sedang ada konflik dan puncaknya mereka saling terdiam (alias sama sama sunyi), pada akhirnya mereka mengatakan kata maaf. Atau, pantas saja, saat seseorang berdiri di waktu fajar. Ia melakukan shalat tahajud, lalu bermunajat dalam kondisi sunyi waktu itu, seringkali beban beban beratnya terurai hingga pikirannya kembali tenang. Terbayang jalan-jalan penyelesaian masalah hari itu. Hatinya merasa cukup atas pemeliharaan Allah terhadapnya.

Dalam keramaian dunia ini, kita butuh beberapa menit untuk menikmati kesunyian. Kita butuh untuk menilai dan mengevaluasi amal amal yang sudah dikerjakan. Kesunyian pada akhirnya menjadi sebuah kebaikan untuk diri kita. Kesunyian pada akhirnya menjadi karunia yang baik untuk diri kita.

Seringkali orang mengalami puncak frustasi, karena ia tak bisa menerima kesunyian dan kesendirian. Hatinya semakin mengeras, pikirannya semakin liar, obsesi duniawinya tak terkendali, nalarnya sebagai seorang manusia mulai hilang. Tak heran beberapa orang yang berada di puncak frustasi melakukan kegilaan, membabi buta, berbuat jahat, hingga bunuh diri.

Kesendirian, Kesunyian dan Keselamatan

Diantara hal yang paling ditakutkan oleh Rasulullah SAW terhadap diri kita adalah riya. Kita menampilkan keshalehan untuk dilihat, dinilai dan pada akhirnya ramai dipuji banyak orang. Ramainya pujian itu justru membahayakan kehidupannya di akhirat.

Potret lainnya, saat orang mengalami episode kesuksesan (karir dan finansial). Seringkali merasa bahwa kesuksesan tersebut disebabkan karena ilmu yang ia peroleh. Seringkali dihinggapi rasa ujub, bahkan menilai oranglain yang minta- minta sebagai orang hina dan malas.

Disinilah, alasan terbesar mengapa kesendirian dan kesunyian harus melekat pada diri kita. Tujuannya agar ketauhidan kita semakin kuat. Mengapa? Karena kita mengabaikan keramaian dan pujian orang. Kita tak butuh perhatian dan penilaian oranglain. Hati kita menjadi khusyu meraih mardhatillah (keridhoan Allah). Hingga pada akhirnya keikhlasan menyelimuti setiap amal amal yang kita kerjakan. Upaya kita beramal dan menjaga keikhlasan tersebut nampaknya akan menjadi keselamatan, baik di dunia dan pasti di akhirat kelak.

Meretas Pertolongan Allah

Meretas Pertolongan Allah

Mengarungi samudera kehidupan saat badai ujian melanda, bukanlah hal yang mudah. Setiap saat kita membutuhkan pertolongan dari Allah SWT.

Teringat salah satu episode kehidupan saya waktu awal nikah. Saat itu 2013, saya dihadapkan pada krisis ekonomi.

“A.. barusan kepala sekolah minta uang tabungan senilai 4jt agar disiapkan dan dibagikan kamis pagi”, ujar Istri, Selasa sore.

Awal nikah kondisi ekonomi saya begitu terpuruk, sehingga terpaksa pinjam ke uang tabungan sekolah TK tempat istri mengajar. Waktu itu terpakai untuk biaya kuliah dan KKN, kuliah istri, biaya kontrakan, biaya cicilan motor, kebutuhan sehari-hari.

“Kumaha A?”, tanyanya membuyarkan lamunan, sambil kulihat genangan air di matanya.

Waktu itu, saya jawab, Insyaallah pasti aya rezekinya, pasti Allah menolong. Padahal jujur saja, waktu itu Blank tak tau harus bagaimana mendapatkan uang 4jt dalam waktu 1 hari.

Terinspirasi dari Sabda Nabi SAW
Nabi SAW pernah melihat Abu Umamah termenung di masjid, ternyata ia sedang dililit hutang. Lalu nabi mengajarkan sebuah doa;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan). Disini Nabi SAW mengisyaratkan bahwa orang yang punya tekanan psikis seperti kena lilitan hutang, perlu ditenangkan dahulu pikiran dan hatinya.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
(Dan aku berlindung kepadamu dari rasa lemah dan kemalasan). Setelah pikiran dan hati mulai tenang, barulah bergerak.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
(Dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan bakhil). Selanjutnya mesti bisa memberikan manfaat untuk oranglain, harus berani berbagi.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
(Dan Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan ketertindasan oleh orang lain). Barulah Allah akan tunjukan jalan-jalannya sehingga hutang bisa terlunasi.

Sungguh luar biasa, sabda Nabi SAW itu 15 abad yang lalu. Jauh sebelum ada istilah ilmu psikologi. Beliau sangat memahami psikologi orang yang kena lilitan hutang.

Keesokan harinya, Rabu setelah shalat shubuh, saya mulai merancang ikhtiar. Saya SMS satu per satu relasi yang dianggap bisa meminjamkan uang. Tak berselang lama, beberapa orang langsung konfirmasi tidak bisa. Betapa malunya waktu itu. Tapi saya tempuh sebagai bagian dari menyempurnakan rukun-rukun ikhtiar.

Beranjak pukul 7, saya putuskan untuk pergi dan menemui sahabat dekat. Ternyata tak ada juga channel mereka yang menyanggupi untuk membantu.

Belajar Bergerak dari Siti Hajar
Siti Hajar melihat ismail kecil menangis kehausan, membuat dirinya berikhtiar maksimal. Ia berlari ke bukit shafa, tak didapati air disana, lanjut berlari ke bukit Marwah.

Balikan 1-2 masih logis, tapi sampai 7 kali (menunjukan banyak sekali), mulai tak logis. Ternyata Siti Hajar tak menggunakan logika matematikanya, ia hanya terus bergerak, meretas pertolongan Allah yang Maha Melihat, agar sudi menurunkan pertolongannya.

Hingga akhirnya Allah munculkan keajaiban air zamzam yang keluar dari tanah yang diinjak Ismail. Ikhtiarnya disana, Allah munculkan solusinya disini. Yang penting ikhtiarnya, itulah yang terus memotivasi saya agar terus bergerak.

Waktu itu memasuki jam 9.30 pagi, selepas shalat dhuha, SMS yang ditunggu belum kunjung ada, akhirnya saya putuskan menggojes motor dan membantu setiap orang yang terlihat butuh bantuan.

Motor terus melaju, doa doa terus saya panjatkan. Menikmati tiap laju ban motor. Saat di Soreang, saya lihat ada seorang bapak dengan tas yang di punggungnya dan membawa kresek besar.

Saya tawarkan bantuan padanya. Kebetulan dia sedang kehabisan ongkos, dia berjalan dengan tujuan ke kopo, menemui anaknya.

Sepanjang jalan saya terus berdoa, dan bertawashul dengan ikhtiar memudahkan urusan si bapak ini. Tak terasa kami sudah ada di tempat tujuan. Motor saya balik kanankan.

Dzuhur belalu, Ashar berlalu, Maghrib berlalu. Tak kunjung terlihat ada tanda-tanda solusi yang datang.

Bada shalat maghrib, saya pasrah, sebagaimana nabi Yunus AS berpasrah dan berdoa kepada Allah;

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (٨٧)فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (٨٨

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan kegelapan berlapis-lapis, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim” Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. (Q.S. Al-Anbiya: 87-88)

Tak ada harapan sedikitpun kepada manusia, tak ada yang saya yakini bisa menolong saya dari ‘kegelapan ini’ selain Allah. Saya sudah tak peduli lagi dengan ikhtiar saya. Saya pasrahkan esok hari kepada yang empunya.

Bada pulang shalat isya, saya lihat ada notif SMS masuk. “Akh, nuju dimana? Tiasa ka rumah?”, itu isi pesannya.

Tak tunggu lama, motor digujes melaju ke Cipasung Baleendah.
“Kenapa bisa punya hutang 4jt, akhi?”, tanya dia. Saya jelaskan semuanya.

Ia langsung melangkah ke lantai 2, turun lagi sembari memberikan amplop besar.

“Coba hitung lagi akhi”, ujarnya

Alhamdulillah ya rabb, sujud syukur, Allah menepati janji-Nya. Allah kabulkan doa-doa saya.

Sekali lagi, saya merasa bahwa Al-Quran ini benar benar fresh. Sangat relevan dengan kondisi kita. Tinggal kitanya yang mentadaburi. ‘Ala kulli hal, mudah-mudahan refleksi tahaduts bini’mah ini bisa bermanfaat.

Setidaknya bagi yang menjalani awal rumah tangga dan diuji dengan krisis ekonomi, yakinlah pasti Allah akan mencukupkan segala kebutuhamu. Selama kita bertauhid kepada-Nya.

Sebagaimana yang nabi Zakariyya sebutkan dalam doanya;
وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
“dan aku tak pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku” (Q.S. Maryam : 4)

Allahu A’lam

Ketika Allah Memberi yang Terbaik

Ketika Allah Memberi yang Terbaik

Pernah kita merasakan, dulu saat duduk di bangku sekolah yang sama, tapi kok teman kita lebih melesat prestasinya? Kuliahnya bareng, tapi dia terlihat lebih mujur karirnya? Sama-sama membangun usaha, eh 3 tahun kemudian dia udah bisa berkembang pesat sementara kita masih seginih seginih saja? Temen-temen yang lain udah pada nikah, eh kenapa jodoh belum kunjung datang? Hidup serasa tak adil, seolah banyak kenestapaan yang menghimpit

Sebenarnya, apa yang terjadi?

Persepsi seseorang mempengaruhi refleksi perilakunya. Sedangkan komposisi persepsi terbesar dibentuk oleh keyakinan (iman) dan ilmu pengetahuan. Pantas saja, umar mengatakan jika ingin bahagia, ya dengan ilmu. Jika cara kita memandang sesuatu (persepsi) sudah benar, dengan memakai kacamata Al-Quran dan Hadits, kita akan menemukan sebuah kesimpulan bahwa Allah memberikan yang terbaik untuk diri kita masing-masing.

Allah yang lebih tau apa yang terbaik bagi diri kita. Allah yang maha memelihara kita. Mahasuci Allah dari sangka-sangka buruk kita terhadap-Nya, Allah tak pernah salah dalam mentakdirkan kehidupan seseorang. Hakikatnya semua ini ujian. Bagian dari validasi keimanan kita terhadap-Nya.

Ada potret menarik sekaligus uswah (role model) dari Nabi Musa AS, bagaimana cara Allah memberi yang terbaik untuknya. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Al-Qashash ayat 3:

نَتْلُو عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman“.

Dalam surah Al-Qashash 15-22 dikisahkan bahwa nabi Musa AS dikejar oleh para pembesar kota Memphis karena meninju orang dari golongan kaum firaun, meski satu pukulan, orang itu mati. Nabi Musa AS mengakui kesalahannya, mengakui dosanya dan bertaubat kepada Allah. Nabi Musa bergegas meninggalkan Memphis.

Hingga sampai di Madyan, dia melihat banyak orang sedang mengantri memberi minum hewan ternaknya di salah satu sumber air di kota tersebut. Musa AS melihat 2 gadis di paling belakang, terlihat hewan ternaknya ingin ke sumber air, namun terus ditahan oleh kedua gadis tersebut. Mereka tak ingin berdesakan dengan lelaki. Mereka rela mengantri karena ayahnya sudah sangat tua. Tak memungkinkan melakukan pekerjaan itu.

Padahal banyak orang melihat gadis itu mengantri. Namun hanya nabi Musa AS lah yang tergerak hatinya untuk menolong kedua gadis itu. Meski dalam kondisi dirinya sendiri sedang kelaparan.

Dipapahnya hewan ternak kedua gadis itu ke sumber air, diberi minum, selesai, beres itu nabi Musa AS langsung berteduh. Tak ada modus apapun pada kedua gadis yang telah ditolongnya itu. Kedua gadis itu kembali ke rumahnya.

Di sisi lain rasa lapar semakin terasa oleh Musa AS. Coba perhatikan bagaimana nabi Musa berdoa dan Allah abadikan doanya dalam Q.S. Al-Qashash : 24

فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Musa berdoa; Ya Rabbii.. sesungguhnya aku membutuhkan yang terbaik yang engkau turunkan (berikan) kepadaku, aku sangat faqir

Apa yang terjadi kemudian?

Ayah kedua gadis yang ditolong tadi oleh Musa AS ternyata adalah Nabi Syuaib AS. Musa diundang ke rumahnya untuk dijamu sebagai bentuk terimakasih.

Bukan hanya itu, setelah Musa AS menjelaskan kisahnya, Nabi Syu’aib menegaskan bahwa Musa AS diberi perlindungan, menjamin keselamatan dirinya.

Lebih dari itu, salah seorang putri nabi Syuaib meminta ayahnya agar melakukan kontrak kerja dengan nabi Musa AS dalam mengelola bisnis keluarga mereka. Kontrak MOU-nya 8-10 tahun.

Dan, tanpa diduga-duga, nabi Syuaib AS meminta nabi Musa AS agar menikah dengan salah satu putrinya itu.

Allahu Akbar, luar biasa. Allah memberikan yang terbaik. Mungkin dalam logika kita, saat kita lapar, ya kita berdoa agar Allah ngasih rezeki berupa uang atau makanan. Tapi Musa AS begitu merendahkan dirinya di hadapan Allah SWT. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Musa.

Musa mengakui kefaqirannya, Dia meminta yang terbaik dari Allah SWT. Allah beri makan nabi Musa, Allah beri perlindungan atas pengejaran Musa oleh pembesar Memphis, Allah beri rezeki dengan mengelola bisnis keluarga Syuaib selama 8 tahun, Allah berikan jodoh untuk nabi Musa AS.

Marilah kita ambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi pada Nabi Musa AS. Teruskanlah doa-doa kita kepada Allah, rasakanlah bahwa kita faqir kepada Allah saja. Faqir dari ilmu, Faqir dari segala daya dan kekuatan. Tolonglah saudara atau orang lain dengan ikhlas, pasti terbalas.

Terakhir, Pahami Small Test
Small Test (ujian kecil) sering hinggap di dalam kehidupan kita. Contohnya saja di kisah nabi Musa AS itu, ada small test. Dimana dia melihat kedua putri nabi Syu’aib, tindakan yang diambil oleh nabi Musa adalah menolong mereka dengan ikhlash. Padahal ada banyak pemuda lain yang turut melihat apa yang dilihat Musa. Tapi hanya nabi Musa AS yang berhasil menyelesaikan small test tersebut. Allah tolong dia dengan memberi yang terbaik. Makan, jaminan keamanan, kontrak bisnis, eh dapat jodoh terbaik pula.

Mari perbaiki persepsi kita. Caranya pedomani Al-Quran dan Hadits, implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jaga sangka baik kita kepada Allah.

Allahu A’lam.

Ketika Musibah menjadi Hadiah

Ketika Musibah menjadi Hadiah

Dulu saat duduk di bangku sekolah saya pernah berpikir, bahwa ayah ibu saya beruntung karena memiliki anak yang pintar. Pemikiran itu sirna ketika sebuah insiden terjadi pada Maret 2008.

Allah takdirkan saya mengalami kecelakaan motor. Mirisnya, waktu itu motornya milik kakak kelas. Saat itu kami sedang mengelola event akbar di sekolah. Saya segera bangkit, tapi aneh, kaki sebelah kiri tak bisa digerakan. Seketika pandangan saya teralihkan pada betis yang bercucuran darah.

Warga yang melihat, berhamburan menghampiri. Sembari memberikan pertolongan pertama, diantara mereka ada yg langsung memesankan angkot untuk membawa saya ke rumah sakit.

Yang dirasakan saat itu, kecemasan yang mendalam. Kondisi krisis ekonomi orangtua saya sedang puncak-puncaknya. Ayah di PHK, uangnya dibayar bayarkan utang. Semua anaknya lagi mejehna biaya sekolah, kakak perempuan saya di Aliyah, saya dan adik laki2 di MTs, si bungsu masih TK. Kondisi ini juga yg membuat saya memilih tawaran beasiswa di SMA Plus Ulumul Quran, karena tak ingin membebani orangtua. Padahal waktu itu inginnya ke Muallimin. Qaddarullah..

Diperparah dengan saya masuk rumah sakit. Sempat komplain kepada Allah;

“Ya Allah.. Kenapa harus terjadi pada saya. Kenapa harus sekarang terjadinya. Bukankah selama ini saya sering ke mesjid? Bahkan shubuh pun di mesjid..”

Saya mulai tersadar, sudah tiba di UGD. Tak berselang lama, dokter memeriksa dan melakukan pembedahan.

Mata saya terus terpejam dengan hati dan pikiran melayang, mencemaskan biaya rumah sakit. Pasti membebani.

Saat pembedahan, sempat sempatnya dokter bilang,

“remaja zaman sekarang hobinya kebut kebutan ya, kalau udah kecelakan seperti ini kan, repot, untung gak mati juga”

Sempat ingin buka mata lalu bicara pada dokter, tapi tak bisa.

Singkat cerita, ayah saya datang. Terjadi obrolan antara ayah dan pihak rumah sakit. Intinya, mau dirawat atau langsung pulang.

Seketika itu, saya berjuang untuk membuka mata dan berbicara pada ayah.

“pak, uih weh, abdi tos mendingan. Insyaa Allah sehat deui”

setengah ragu, ayah mengiyakan.

kursi roda sudah berada di ujung rumah sakit. Dibopongnya tubuh oleh ayah saya. Terasa langkah kakinya mulai gontai. Hati mulai berkecamuk.

Biaya rumah sakit, seragam rusak parah, ganti biaya service motor kakak kelas, dll

Tapi yang membuat saya menangis adalah, ketika saya tersadar bahwa

Allah memberi ayah yang terbaik. Justru sayalah yang beruntung. Saya beristighfar..

Sesampainya angkot di depan tirta regency, ayah kembali membopong. Hati terkoyak koyak, saya hanya bisa berdoa

“Ya Rabb, berilah kebaikan (khairan) yang besar untuk ayah hamba. Ya Allah, mampukan hamba untuk membahagiakannya. Ampuni dosa dosa kami..”

Musibah itu mentenagai kehidupan saya. Membuat perubahan mindset. Saya mulai berpikir harus mandiri dan memberi yang terbaik untuk mereka; ayah dan ibu.

“Ya Allah, saya terima takdirmu. Saya imani musibah yang menimpa ini adalah sebuah ketetapanmu. Tak mungkin engkau salah mentakdirkan”.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hati orang itu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Musibah adalah bentuk validasi keimanan kita kepada Allah. Sebab, saat ia datang, hati dan pikiran kita terguncang berat dan disinilah letak ujiannya. Apakah kita akan menerima qadha qadar Allah? Apakah kita akan bisa husnu dzan kepada Allah? Apakah kita masih bisa menjalankan ketaatan kepada-Nya? Setelah Allah ambil sesuatu yg paling berharga.

Singkat cerita, tak lama setelah musibah itu terjadi, sebuah yayasan meminta saya mengajar di TPA yg mereka kelola. Setelah mendapat izin dari orangtua, saya akhirnya menjadi guru disana. Saat itu awal masuk kelas 11 SMA.

Selama 3thn di SMA, tak pernah minta uang. Beli buku, jajan dan kebutuhan lainnya, Allah mudahkan jalan rezekinya.

Allah mendidik saya untuk berwirausaha. Saya mulai membangun jaringan relasi. Di kelas 11 ini, Allah mampukan saya untuk berkontribusi pada ekonomi keluarga.

Uang ngajar TPA, ngajar privat, jualan buku dan herbal, setengahnya dialokasikan untuk keperluan dapur.

Allahu kariim…

Penggenggam takdir,

Yang Maha menggenggam cerita kehidupan,

Mari, teruskanlah ikhtiar ikhtiar kita kepada-Nya. Lanjutkan terus doa doa kita kepada-Nya. Jaga terus sangka baik kita kepada-Nya. Pahami isyarat kasih sayang Allah kepada diri kita..

Allahu A’lam.

Ketika Allah Memilih-mu !

Ketika Allah Memilih-mu !

Pernahkah kita bertanya seperti ini, “Mengapa harus saya yang mengalami ini Ya Allah?” di saat kita mengalami ujian atau musibah yang saat ini kita rasakan. Allah tak mungkin salah mentakdirkan. Engkau memang yang dipilih oleh Allah untuk merasai musibah tersebut.

Tapi kenapa harus saya, bukankah saya menjalankan ketaatan kepada Allah, saya shalat, saya menutup aurat, saya juga beribadah terus kepada Allah?

Jawabannya karena Allah memang memilihmu. Musibah itu sudah diizinkan untuk tepat mengenai dirimu, bukan oranglain. Seperti yang Allah jelaskan dalam Al-Quran;

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ* وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ*

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. At-Taghabun:11)

Kalimat أَصَاب berarti menimpa, membentur, mengenai tepat sasaran. Sehingga, apapun musibah yang telah terjadi pada diri kita, itu semua sudah kehendak Allah. Sekali lagi, Allah memilihmu!

Musibah adalah Validasi Keimanan

Ketika Allah sudah menetapkan pilihannya terhadapmu, apakah engkau akan menerima takdir Allah tersebut? Sejatinya, musibah merupakan cara Allah memvalidasi (mengecek kebenaran) keimanan seseorang.

Jika dalam kondisi biasanya, engkau biasa mengerjakan shalat, berdoa dan menjalankan ketaatan pada Allah, apakah saat musibah itu hadir menerpa, apakah engkau sanggup untuk terus khusyu dalam berdoa kepada Allah? Apakah engkau sanggup untuk terus menjalankan ketaatan pada-Nya? Ataukah engkau akan mengikuti was was (provokasi setan) sehingga pada akhirnya mencela takdir Allah kepadamu?

Mari perhatikan lanjutan Ayatnya, وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Siapa saja yang bertambah penghayatan keimanannya kepada Allah setelah musibah itu menimpa dirinya, pasti Allah akan memberikan hidayah kepada hati hamba tersebut.

Apa jadinya jika hati kita terhidayahi? Semua persoalannya akan menjadi baik dalam pandangan Allah. Allah akan turunkan sakinah pada hatinya. Meski ujian/musibah tersebut menggoncangkan hati dan pikirannya, ia tetap bisa berjalan dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah.

Saat itulah, Allah naikan levelnya. Allah naikan derajat hamba tersebut. Allah pula ampuni dosa-dosanya (seperti yang termaktub dalam Q.S. As-Syuraa:30).

Pahami Isyarat Sayang Allah

Seringkali, musibah efektif untuk menyadarkan diri kita atas hal yang perlu kita perbaiki, perlu kita taubati atas dosa-dosa yang kita lakukan. Mungkin ada kedzaliman diri kita terhadap orang lain. Mungkin ada hak orang lain yang belum kita berikan. Mungkin saja demikian.

Jika engkau yang dipilih oleh Allah untuk menerima ujian atau musibah itu, maka pahamilah isyarat kasih sayang Allah kepadamu. Allah sedang mendidik dirimu. Allah sedang merencanakan hal terbaik untukmu beberapa waktu mendatang. Allah sedang mempersiapkan dirimu menjadi orang terbaik, menjadi bahan teladan kedepannya bagi banyak orang. Hanya saja, engkau harus bisa menjalani ujian tersebut saat ini dengan baik.

Dan di akhir ayatnya (Q.S. At-Taghabun:11 diatas), Allah SWT seolah ingin menjawab semua pertanyaan diri kita. وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (Allah lah yang mengetahui segala sesuatu).

Allahu A’lam.