Paradigma Cinta yang Bisa Membuat Remaja jadi Luar Biasa

Paradigma Cinta yang Bisa Membuat Remaja jadi Luar Biasa

Bicara soal cinta, rasanya tak akan pernah bosan. Lintas waktu dan lintas generasi, kisah cinta akan selalu ada. Cinta adalah salah satu bentuk emosi (perasaan) dalam psikis manusia. Ia merupakan anugrah Allah kepada manusia, sehingga dalam menjalani kehidupan, manusia bisa menjadi manusia seperti seharusnya.

Oh ya, bagi yang sekarang sedang dibuai cinta asmara, mari kita cek apakah cinta yang bersemi di hati kita itu sudah benar-benar aman? Sehat dan layak dipertahankan? Ataukah membahayakan hidup kita? Eh, kok bisa disebut membahayakan?

Begini, cinta yang sejati itu bisa kita lihat dari beberapa indikator (ciri). Kalau indikator-indikator ini ada dalam rasa cintamu, maka layaklah itu disebut cinta. Inilah paradigma cinta yang bisa membuat remaja jadi luar biasa:

Pertama: Cinta itu membangun diri jadi lebih baik
Jika benar itu adalah cinta, maka seseorang akan tumbuh sesuai potensinya. Lelaki tumbuh dengan potensi kelaki-lakiannya, Perempuan pun tumbuh dengan potensi keperempuanannya.

Cinta tak akan melecehkan, mengorbankan kehormatan, dan merusak masa depan. Tapi ia akan memberikan dorongan untuk jadi lebih baik, lebih berani, lebih mengerti, lebih lapang dada dan lebih bersabar dalam berjuang.

Sebenarnya, inilah yang dimaksud orangtua zaman dahulu. Mereka pernah bilang, kalau ingin semangat belajar di sekolah; bangun cinta (puber). Dan nyatanya, anak-anak zaman dahulu memahami arti cinta dengan benar.

Sehingga saat cinta bersemi dan berdinamika, prestasi mereka tetap oke, akhlak mereka juga tetap terjaga.

Kedua: Cinta itu Mendorong pada Ketaatan dan Kebaikan Akhlak
Di telinga kita sudah sering terdengar istilah jatuh cinta. Apa yang terjadi pada orang yang jatuh cinta? Seringkali ia dikendalikan dan dikondisikan oleh syahwat.

Mari kita ubah dengan istilah bangun cinta. Bangun cinta berarti kita yang mengendalikan rasa cinta itu, agar ia tetap menjadi kebaikan.

Bagi orang yang beriman, cinta teragung dalam dirinya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang membingkai cinta-cinta lainnya sehingga dia memiliki kepribadian yang sehat, berbakti pada ayah ibu, baik akhlaknya, dll.

Saat orang ini mencintai lawan jenisnya, maka dorongan cintanya akan mengarah pada ikatan suci pernikahan. (ini konteks anak muda, masih lajang). Cintanya membuahkan ketaatan kepada Allah.

Allah berikan sakinah, semakin menyuburkan waddah (cinta) dan memberikan rahmat untuk ikatan cinta mereka (dalam pernikahan).

Sebaliknya, jika bukan Allah dan Rasul-Nya yang mengisi relung hati terdalam, maka ia akan sulit mengendalikan diri. Mudah mengikuti syahwat, mudah melakukan pemberontakan, ketidaktaatan, pembangkangan, tak peduli dengan aturan, tak peduli pada orangtua, tak peduli pada oranglain.

Ketiga: Cinta itu Harus Ada Logika 
Tanpa logika (akal) yang sehat dan norma (aturan) agama, cinta bisa berubah menjadi ganas, merusak dan liar, karena itu bukan lagi cinta melainkan syahwat.
Ia akan menuntut kebabebasan sampai kebablasan. Ia akan mengorbankan kehormatan diri. Ia akan berakhir nestapa dan penuh kehinaan.

Keempat: Cinta itu Harus Memiliki
Ikatan cinta yang ada pada diri dua orang yang saling mencintai, belum disebut cinta sejati, manakala tak berani untuk saling memiliki. Sebab cinta mesti memiliki.

Bentuk memiliki-nya adalah dengan ikatan pernikahan.

Jika cinta tak harus memiliki, maka itu bukan cinta lagi. Sebut saja; cinta satu malam, cinta satu jam, dll merupakan syahwat. Itu semua syahwat ayam kampus, buaya darat, syahwat binatang ! Ia sudah kehilangan kewarasannya sebagai manusia yang beradab.

Kelima: Cinta itu Tidak Konyol
Jika benar itu adalah cinta, maka ia tak akan berbuat kekonyolan paling bodoh dlm hidupnya. Tak akan tukaran foto (bugil, maaf), tak akan mau dicium, dipeluk dan diraba raba. Apalagi mati bunuh diri.

Keenam: Cinta itu Memunculkan Kesetiaan
Rasa cinta membuat orang berani mengambil konsekuensi untuk setia. Setia kepada Allah untuk menghindari dosa-dosa yang menjerumuskan pada zina.

Kesetiannya dibuktikan dengan menjaga virginitas, menundukan pandangan, tidak pacaran kecuali setelah menikah (karena sudah halal), menjadi jomblo mulia istiqamah, shaum sunnah, segera pulang ke rumah jika melihat wanita yang seksi atau aduhai (khusus yang sudah menikah ya), menjaga jarak dengan non muhrim, menjaga fitnah, tak mengumbar aurat, tak merusak hubungan orang lain (jadi pelakor),

hingga pada akhirnya bisa bermujahadah (berjuang secara sungguh sungguh) mengorbankan harta dan jiwa untuk membela agama Allah, terbebas dari belenggu cinta dunia (anak istri dan harta kekayaan).

Jika Keenam indikator itu tak ada, maka itu bukan Cinta lagi, tapi Syahwat. Hidup bisa berat dan sesat !

Wahai, engkau yang saat ini masih terbelenggu dengan syahwat, pahamilah pesan Allah SWT ini;

Maka datanglah setelah mereka, pengganti (generasi) yang mengabaikan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu), maka mereka kelak akan tersesat” (Q.S. Maryam: 59)

Kecuali mereka yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan perbaikan amal (beramal shaleh), maka mereka itu akan masuk surga dan tak akan didzalimi sedikitpun (sebab dosa-dosanya sudah diampuni)” (Q.S. Maryam: 60)

Allahu A’lam.

Penyebab Anak Pesantren (Santri) Kebablasan Pergaulannya

Penyebab Anak Pesantren (Santri) Kebablasan Pergaulannya

Manusia memiliki dua sifat dasar dalam dirinya. Kedua sifat ini tak bisa ditawar-tawar lagi, sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Apa kedua sifat tersebut? Allah SWT berfirman dalam Q.S. Asy-syams: 8-10

“Maka kami ilhamkan kepada manusia, dorongan berbuat dosa (fujur) dan dorongan ketaatan (taqwa) [8] Sungguh, telah beruntung orang yang mensucikan dirinya (dari dosa-dosa yang telah dikerjakannya) [9], dan Sungguh sungguh merugi (karena akan binasa) orang yang mengotori (hatinya dengan terus berbuat dosa) [10]”

Kedua sifat dasar ini, baik membangkang atau taat, akan terus berkecamuk dalam hatinya. Mana yang paling kuat di dalam hatinya. Seperti itulah, karena kita spesies manusia.

Dosa sifatnya bertambah, saat hawa nafsu terus diikuti. Sama, ketaqwaan pun sifatnya bertambah, jika terus melaksanakan ketaatan dan memahami agama Islam dengan benar.

Dalam kehidupan kita saat ini, tentu ada pasang surut diantara keduanya.

Ketauhilah, saat kita berbuat dosa, maka ketaqwaan akan turun (melemah) sampai kita mentaubatinya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Surat Asy-syam diatas.

Sekarang, ada sebuah pertanyaan. Kenapa kok anak pesantren, tapi pergaulannya bisa parah dan kebablasan? Sedangkan dia kan tiap hari belajar ilmu agama, dimana letak kesalahannya?

Akhirnya, setelah mengamati ribuan kasus santri, saya menemukan benang merahnya.

Ternyata, penyebab utamanya adalah karena ADA DOSA yang belum ditaubati. Dosa tersebut mereduksi keimanan dan akhlaknya.

Sehingga, ilmu agama yang diterangkan di kelas, di mesjid, tak akan bisa sampai ke hatinya. Dia hanya mendengar, tanpa bisa memahami dan bertambah penghayatan keimanannya. Menjadi susah untuk dipraktekan. Sholat menjadi malas, ikut kajian di mesjid menjadi sangat berat. Hafalan Quran jadi rontok. Dia menjadi mudah untuk melakukan dosa berikutnya, dosa berikutnya. Ini terus terjadi, sampai dia berani mengakhiri lingkaran tersebut dengan bertaubat kepada Allah SWT.

Saat bertaubat, Allah SWT akan memberikan ketenangan, kedamaian dan berbagai karunia kepada orang tersebut.

Bisa kita saksikan bersama, mengapa orang yang muallaf, keimanan dan akhlaknya luar biasa, bahkan melebihi orang muslim pada umumnya?

Itu tak lain karena disebabkan karunia Allah yang diberikan untuknya. Allah senantiasa membimbingnya, karena orang itu memilih istiqamah di jalan Allah.

Sehingga, kesimpulannya adalah mau anak pesantren mau tidak, jika ada orang yang berbuat suatu dosa, maka dosa itu mereduksi keimanan dan akhlaknya, jika terus dibiarkan tanpa ditaubati, maka semakin hari hatinya bisa semakin kering, gersang, tandus, akhirnya bablas mengikuti hawa nafsu. Allahu ‘alam

Peran Orangtua Tentukan Pembentukan Karakter Keshalehan Anak

Peran Orangtua Tentukan Pembentukan Karakter Keshalehan Anak

Saat rapat dengan orangtua santri, seorang ibu bertanya, “ustadz, kami sama sama bekerja, ketemu anak hanya malam saja, bagaimana cara ideal mendidik anak?”, tanyanya.

Di lain waktu, orangtua yg lain berkata, “da ustadz, ayeuna mah pengaruh lingkungan dan gadget luar biasa..”, ujar si bapak

Sebelum mengurai tentang judul tulisan ini, saya menyuguhkan data temuan di Bimbingan Konseling MTs Persis 3 Pameungpeuk. Pada tahun 2015 ada 63 kasus pacaran parah. Tahun 2016 kasus serupa turun jadi 24, dan tahun 2017 turun lagi jadi 17 kasus. Santri di MTs ini diatas 1000 orang. Dan, setelah ditelaah, semua yang berkasus tersebut 90% ada masalah di keluarga

Ayah Ibu merupakan orang yang paling bertanggungjawab atas perilaku anaknya. Perilaku anak hari ini merupakan manifestasi dari apa apa perlakuan orangtua terhadapnya di masa yg telah lalu.

Di usia 7 tahun pertama, ayah ibunya sanggup mengintervensi (mempengaruhi) hidup anak 80-90%

Di usia 7 tahun kedua (8-14thn), intervensinya turun jadi 60%

Di usia 7 tahun ketiga (15-21) intervensinya turun lg jadi 40%

Di usia 7thn keempat (22-28) lebih turun lagi tingkat intervensi ayah ibu ke anaknya, bisa 20% bahkan nol besar.

 

Darimana kita memulai memperbaiki semuanya?

Jawabannya, mulai dari ayah ibunya. Memang benar, lingkungan berpengaruh. Gadget berpengaruh, teman berpengaruh. Tapi harusnya pengaruh orangtua mesti lebih kuat.

Kenapa pengaruh orangtua menjadi tidak sekuat pengaruh lingkungan?

Itu karena;
▪ saat usia 7 tahun pertama, kebutuhan attachment (kelengketan) nya tak terpenuhi. Kelengketan berarti si anak merasakan ayah ibunya hadir dlm hidupnya, menghangatkan suasana hatinya. Ada kenyamanan dan kebahagiaan saat ayah ibunya ada. Karena ayah ibunya tak sekedar mengawasi, tapi juga membersamai dirinya

▪ di usia 7 tahun kedua, ayah ibunya kurang menerapkan 3 hal ini penting ini saat ada di rumah yaitu; Bermain (bercanda), bicara (ngobrol santai) dan belajar (ngaji atau kegiatan yang bermuatan pembelajaran)

Anak anak sebetulnya tak butuh ayah ibunya full 24 jam. Saat bermain, tentu anak tak akan nyaman jika terus dibuntuti oleh orangtuanya. Antar jemput selama sekolah full ditunggu dari SD-SMA, pasti sangat tak diinginkan oleh anak.

Faktanya, anak butuh waktu intens 1-3 jam untuk berinteraksi dengan ayah ibunya.
Saat berkumpul di rumah, ada pengaruh yg ditancapkan orangtua kepada anaknya.
Saat anak bs mengagumi ayah ibunya, nilai nilai baik dari keduanya akan diduplikasi oleh anaknya.

Sesibuk apapun, mengurus anak mesti dijadikan prioritas. Orangtua tak mesti 24 jam ada di samping anaknya, tetapi saat ketemu dgn kita selaku ayah ibunya, anak merasakan kehadiran kita, ada pengaruhnya keberadaan kita untuk hidupnya.

Misal; ayah ibunya bekerja. Pulang maghrib. Anaknya sekolah di SMP/MTs. Mereka hanya ketemu pas maghrib, ayahnya bisa ngajak shalat berjamaah di masjid. Atau, bisa ngobrol ngaler ngidul dulu, namun pada akhirnya dia mendapatkan pembelajaran.

Atau, kalau anaknya terlihat susah shalat, ayah ibunya bs melibatkan Allah. Sebutkan,
Takutlah pada Allah.. Wahai anakku

Kembali ke pertanyaan dan pernyataan yabg ditulis di awal tulisan ini.

Idealnya jika orangtua sibuk, sekurang kurangnya manfaatkan waktu 1/2 jam hingga 3 jam (dari 24 jam bayangkan) untuk hadir dalam kehidupan anak-anak kita, menanamkan nilai nilai agama, ada interaksi dan kebersamaan. Orangtua yang seperti ini, biasanya akan mudah mengendalikan dan membangun karakter anak.

Selanjutnya, anggapan pengaruh lingkungan sangat kuat, mesti kita tepis. Mestinya ayah ibunya yang lebih bisa mempengaruhi. Karena waktu terbanyak anak bertemu dengan orangtuanya. Namun sayang sekali jika sekedar bertemu dan ada disampingnya, tanpa si anak merasakan interaksi, kehngatan dan kebersamaan.

Terakhir, tak semua hal mampu kita gapai. Anak kita tak bisa kita genggam hati dan pikirannya. Sebab itu, cara membangun karakter shaleh terpenting adalah; kita menjadi orangtua yg shaleh.

Kita senantiasa mendoakan mereka. Akan ada pertolongan Allah,  memudahkan mendidik anak jadi sholeh sholehah.

Allah berfirman;
“Dan orang orang yg berdoa’ ya Rabb kami, Anugerahkanlah kepada kami pasangan dan anak keturunan sbg penenang hati kami, dan jadikanlah kami sbg pemimpin bagi orang-orang yg bertaqwa”. (Q.S. Al-Furqan: 74)”.

Allahu a’lam

Cara Menyembuhkan Depresi secara Psikologi Islami

Cara Menyembuhkan Depresi secara Psikologi Islami

Selama belajar ilmu psikologi, tak ada yang paling praktis dan mudah dipahami dalam mengurai dan menemukan solusi atas masalah-masalah psikis manusia, selain dari kitab Al-Quran.

Misalnya saja, dalam Quran surah Ad-Dhuha, saya menemukan bagaimana secara psikologis orang depresi bisa disembuhkan dalam waktu relatif cepat dan efektif.

Sebelumnya, apa sih depresi itu?
Depresi adalah kondisi psikis (jiwa) dalam tekanan luar biasa, pikiran dan moodnya terganggu berat, ditandai dengan munculnya ketakutan dan kecemasan (anxiety) yang sangat akut, munculnya rasa tak percaya diri, menarik diri dari lingkungan dan berputus asa (inferior). Jika dibiarkan dalam waktu lama bisa menyebabkan kegilaan (insane).

Bagaimana Allah SWT menawarkan solusinya?

Pahami Isyarat Kasih Sayang Allah padamu
Pahami kemahabesaran Allah dalam hidupmu. Nama Allah SWT biasanya sering dipakai orang untuk bersumpah, agar oranglain percaya dengan sumpah orang tersebut. Namun salah satunya dalam surah Ad-Dhuha, Allah sendiri yang bersumpah. Artinya tak boleh ada celah keraguan sedikit pun bagi orang-orang yg beriman. Janji Allah PASTI PASTI akan terjadi.

Allah SWT bersumpah dengan waktu dhuha.

وَالضُّحَىٰ﴿١﴾
Demi Waktu Dhuha” (1)

Saat dhuha, orang bisa menyaksikan sinar matahari yang indah, betapa hangatnya mentari, sinarnya menimbulkan kesejukan, kehangatan dan ketenangan meliputi tubuh kita. Artinya, Allah menyuruh kita untuk memperhatikan kondisi-kondisi suka dalam hidup kita.

Selanjutnya, Allah juga bersumpah dengan pekatnya malam.

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ﴿٢﴾

dan demi malam apabila telah sunyi (pekat)” (2)

Pernahkah kita keluar malam hari, tak ada bintang, tak ada bulan, tak ada sinar lampu. Kita rasakan kegelapan, kesunyian, ketakutan. Kita sulit melangkah, padahal jalannya ada. Artinya, Allah menyuruh kita untuk memperhatikan kondisi-kondisi sulit dalam hidup kita.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“dan bahwasanya Dialah Allah yang menjadikan orang tertawa (suka) dan menangis (duka)”. (Q.S. An-Najm: 43)

Sadari bahwa semua yang sudah terjadi dalam hidup kita ada kemahabesaran Allah di dalamnya. Saat kita menggapai berbagai prestasi, menorehkan karya, kesuksesan dll semuanya atas pertolongan Allah. Saat kita merasakan pahitnya ujian dan ditimpa musibah, itu pun atas kehendak Allah SWT.

Rekontruksi Pikiran-mu, wahai hamba Allah !

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ﴿٣﴾
Rabb-mu tidak akan pernah meninggalkan-mu dan tidak pula membenci-mu” (3).

Ayat ini romantis banget. Allah SWT telah bersumpah tak akan pernah meninggalkan kita baik dalam kondisi suka ataupun duka, tidak pula akan membenci diri kita sekalipun kita berlumur dosa dosa. Ini tersyaratkan di ayat ke-4 nya.

Disini poin nya adalah, kita wajib memperbaiki struktur pikiran kita. Stabilkan pikiran dan hati kita dengan cara senantiasa husnudzan kepada Allah SWT. Berprasangka yang baik-baik kepada Allah SWT, akan merekontruksi pikiran dengan cepat, stabil lebih cepat, kecemasan (anxiety) segera hilang, kesedihan mulai terhapuskan dengan ketenangan demi ketenangan. Amazing !

 

Perbaiki Orientasi Hidup-mu

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ﴿٤﴾وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ﴿٥﴾
“Dan sungguh Akhirat itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia” (4), Dan kelak pasti Rabb-mu akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lantas engkau pun akan ridha (5).

Allah sudah berjanji, tidak akan pernah meninggalkan hambanya dan tidak akan pula membenci diri hamba itu selama dia senantiasa menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya orientasi hidup (arah dan tujuan hidup). Ikhlash dalam menjalani semuanya. Just focus on Allah, hanya fokus kepada keridhaan Allah (mardhatillah).

Kegagalan, keterpurukan, kesengsaraan, dan hal-hal lain yang membuat depresi, jika ikhlas dan berorientasi kepada Allah, maka seketika itu Allah akan mengganti depresi dengan rasa tenang atas izin dan karunia-Nya. Allah menjanjikan surga atas kesabaran dan keikhlasan kita saat di dunia. Allahu akbar !

Jadi teringat, surah Ad-Dhuha ini turun saat banyaknya provokasi orang-orang Quraisy menyerang psikisnya nabi SAW, karena memang waktu itu sudah 6 bulan wahyu belum ada yang turun. Allah tepis provokasi tersebut, Allah jawab dengan surah ini.

Kita lanjut,

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰوَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ﴿٧﴾وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ﴿٨﴾

“Bukankah Dialah Allah yang mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? (6) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk? (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan? (8)

Allah SWT mengajak flashback ke belakang tentang hidup kita, inilah alasan kenapa kita mesti yakin dengan janji-janji Allah.

Saat kita masih bayi kecil, Allah yang mengurus kehidupan kita. Saat memasuki fase remaja akil baligh, kita dari yang tak memahami agama dan mengalami krisis jati diri, Allah tuntun hingga memahami agama dan hidayah-Nya.

Allah juga senantiasa memberikan rezeki dari awal kita di kandungan ibu, hingga kita dewasa, sampai detik ini. Inilah alasan kita mesti yakin yakin benar dengan janji Allah SWT.

Urai Egosentris dengan Altruistik, Pecahkan Belenggu Depresi dengan Berbagi dan Peduli kepada orang yang Lebih Berat Beban Hidupnya.

Saya sering menemukan ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan mengapa terjadinya kerusakan pikiran dalam diri manusia, dan pada ujung-ujungnya Allah selalu menyuruh manusia itu agar memperhatikan dan berbagi dengan oranglain.

Sekarang saya pahami, memang benar, saat orang depresi, dia jauh lebih fokus kepada dirinya sendiri. Egosentrisnya sangat kuat, dan ini akan menghambat penyembuhan depresi.

Tetapi saat Allah menyuruh kita, hamba-hambanya untuk anti egosentris, bersikap peduli dan menolong oranglain (altruistik) maka depresi itu bisa menyublim menjadi sebuah kekuatan dan pada akhirnya depresi itu hilang tergantikan dengan rasa syukur kepada Allah SWT.

Lihat dan perhatikan baik-baik pesan dari Allah SWT;

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ﴿٩﴾وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ﴿١٠﴾وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Maka adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang! (9) Dan terhadap orang yang minta-minta (pengemis yang benar-benar papa, maka janganlah engkau menghardiknya! (10) Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (11).

Allah menyebutkan dua kondisi orang yang mesti kita berbuat baik terhadapnya, mesti dijaga baik baik sikap kita terhadapnya, mesti kita perhatikan hidupnya. Mereka adalah anak yatim dan orang fakir.

Mengapa dan ada apa dengan anak yatim? Ada apa dengan orang yang sangat fakir hingga dia harus meminta minta?

Bersyukurlah, karena Allah masih membuat kita bisa tegak berdiri karena sokongan ayah yang luar biasa. Hangat kasih sayangnya membuat kita tegar, ada tempat mengadu, ada tempat mencurahkan cerita, ada tangan ayah yang mendorong jalannya hidupmu.

Bersyukurlah, kita juga dijaga dirawat dan diberi kecukupan rezeki, tak seperti orang yang Allah uji dengan kefakiran. Dua kondisi tersebut sungguh sangat membebani psikis seseorang.

Pantaslah jika kita mentaati perintah Allah agar peduli dengan hidup mereka. Penderitaan kita mungkin belum seberapa. Bantulah mereka, berbagilah dengan mereka. Agungkan nama Allah, sebutlah nama Allah atas berbagai karunia yang kita bagikan untuk mereka. Syukuri seluruh kenikmatan yang telah kita terima dari Allah SWT.

Saat kita bisa mengamalkan semuanya, Allah pasti akan memberikan kelapangan hati dan pikiran kita kurang dari 13 detik. Sebab, setelah turunnya surah Ad-Dhuha, wahyu Allah selanjutnya turun surah Al-Insyirah. Allahu A’lam.

Mengapa Remaja Melakukan Kenakalan ?

Mengapa Remaja Melakukan Kenakalan ?

Ada banyak remaja terjebak pada sebuah kondisi yang pada akhirnya menyebabkan dia memilih untuk melakukan kenakalan. Padahal dulu saat ia masih kecil, dia adalah anak yang baik. Lucu dan menggemaskan bagi ibu bapaknya. Sebagian besar remaja yang melakukan kenakalan, menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan dan nuraninya juga terluka akibat itu.

Tak sedikit orangtua ataupun masyarakat menyalahkan kondisi lingkungan pergaulan remaja tersebut. Apakah benar jika remaja melakukan kenakalan itu disebabkan pengaruh lingkungan?

Hasil riset Bimbingan Konseling MTs Persis 3 Pameungpeuk dari tahun 2015 hingga 2018, menunjukan fakta yang cukup mencengangkan. Ternyata pengaruh lingkungan hanya 25% saja pada kehidupan remaja. Komposisi pengaruh terbesar justru ada di keluarganya.

Remaja dan Kerapuhan
Data yang dihimpun selama 3 tahun itu, berhasil memotret sebuah temuan. Penyebab utama seorang remaja terjebak melakukan kenakalan adalah disebabkan adanya kerapuhan pada psikisnya. Di fase usia perkembangan remaja, ia dihadapkan pada sebuah kompleksitas masalah yang belum pernah ia rasakan saat masih usia anak-anak.

Sebetulnya kompleksitas masalah pada kehidupan remaja merupakan hal yang alami. Adanya kompleksitas masalah seharusnya membentuk remaja menjadi lebih tangguh. Ia menjadi memiliki banyak kemampuan untuk bertahan hidup bahkan meningkatkan taraf hidupnya di fase perkembangan yang akan datang. Hingga puncaknya ia mengalami sebuah kedewasaan.

Namun sayangnya bagi remaja yang psikisnya mengalami kerapuhan, itu semua tidaklah mudah. Bahkan sangat sulit. Ia membutuhkan sebuah keajaiban. Tapi baginya, keajaiban hanyalah mimpi. Hingga ia pada akhirnya di puncak frustasi. Bentuk kefrustasian itu ia lampiaskan dengan berbagai macam cara yang biasa kita sebut sebagai sebuah kenakalan.

Ujian Terberat ada di Keluarga
Kerapuhan psikis pada seorang remaja ternyata bermula dari ujian hidup yang ada di keluarganya. Bentuk ujian berat di keluarganya, diantaranya ia menghadapi kenyataan bahwa ada ketidakharmonisan ayah dan ibunya. Konflik mereka dipertontonkan kepada anaknya.

Ada juga yang mesti menerima kenyataan ayah ibunya bercerai. Dianggap lebih mengerikan lagi, ketika ayahnya nikah lagi dan ibunya nikah lagi. Masing-masing mereka memiliki anak. Remaja tersebut merasakan kesepian dan kesendirian di tengah keramaian.

Selain itu, ada juga remaja yang kehilangan fungsi ayah dan fungsi ibunya. Ayah dan ibunya sama sama sibuk bekerja. Bagi orangtua yang sibuk bekerja dan masih bisa meluangkan 30 menit untuk quality time bersama anaknya, itu merupakan hal yang didambakan anaknya. Namun jika kedua orangtuanya tak bisa memenuhi kebutuhan bathiniah (emosional dan spiritual anaknya) maka kenyataan ini juga akan membuat remaja menjadi rapuh psikisnya. Bertemu hanya sekedar bertemu. Tak ada obrolan hangat. Tak ada ruang untuk menumpahkan segala kepenatan dirinya. Tak ada sandaran dan dekapan orangtua untuk meneguhkan jiwanya menghadapi segudang masalah di luar.

Adapula, remaja yang harus mengalami kehancuran harga diri di rumah. Yang sering terjadi adalah saat remaja itu dibanding-bandingkan dengan adiknya atau kakaknya, saudaranya, tetangganya dan orang lain. Remaja yang selalu mendapat perlakuan dibanding-bandingkan, biasanya hatinya menjerit, seolah ia ingin mengatakan “Hargai Kelebihan saya, Lihatlah kebaikan yang ada pada diri saya, mah.. pah..

Anak Remaja pun belum sepenuhnya memahami, bahwa sebetulnya orangtuanya bermaksud memotivasi dirinya agar bisa melakukan dan mencapai hal yang sama dengan subjek yang dibandingkan. Sayangnya, bagi remaja, memotivasi dengan cara membandingkan adalah cara yang kurang efektif.

Sebaiknya orangtua memperlakukan remaja sesuai dengan fase perkembangannya. Cara yang dinilai lebih efektif untuk memotivasi seorang remaja adalah dengan memberikan tantangan dan mensugesti mimpi (dream) nya.

Contoh;
“Aa.. bisa bantu ibu beliin gas?”

“Teteh.. mamah yakin, kalau teteh maksimal memanfaatkan waktu buat belajar, teteh bisa berprestasi di kelas”,

“Lihat A.. suatu hari nanti, Aa akan kuliah di sini (ayahnya sambil menunjuk sebuah gedung bertuliskan Universitas Pendidikan Indonesia)”,

“Teh.. teteh fokus pada kelebihan teteh. Teteh harus berjuang, harus tetap taat ibadah, bagi mamah saat teteh luar biasa

Coba dirasakan, bagaimana jika seorang anak remaja diberi perlakuan seperti itu?
Energinya yang sangat besar, akan mengalir dengan baik. Harga dirinya akan naik. Semangat berjuangnya meningkat. Ketahanan dalam mengelola masalah (endurance) nya akan teruji.

Allahu A’lam.